Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Bismillahirrahmanirrahiim..
Lama tidak nulis postingan baru, memunculkan banyak hal yang ingin saya sharing termasuk pemikiran di hari kemarin. Entah mengapa, saya terpikirkan usia saya yang mengurang di tiap harinya. Maka, apakah kau tidak menyia-nyiakan usiamu?
Kemarin, saya bertemu dengan seorang ukhti yg sangat menginspirasi saya di sore itu. Namanya Teh Odah, murabbi tahsin Al-Quran di NK, sekaligus pengurus sebuah panti asuhan dan pentarbiyah yang sangat jempolan. Kata2nya itu nyindir tapi ngena, jadi tidak ada perasaan sakit hati, yang ada adalah perasaan untuk ingin berkembang.
Disana, beliau bercerita bahwa amanah itu memang banyak. Bahkan sebuah pepatah (atau hadits saya lupa .red) mengatakan “kewajibanmu lebih banyak dibandingkan waktu yang ada”. Beliau bercerita bahwa sebetulnya keseluruhan ini adalah pintar2nya kita me-manage pikiran kita.
Ngena banget, soalnya saya itu orang yang panikan, riweuh, dipikir ribet jadi yang ada amanah satu aja kayak punya seribu amanah.
Lalu beliau bercerita lagi, “Kesibukkan itu adalah hal yang baik. Kenapa? Bayangkan kalau hidup kita hanya diisi oleh duduk2 saja, main2 saja.. Jadi, kesibukkan kita itu akan membuat waktu yang kita miliki tidak sia-sia sepenuhnya.
Disini, pemikiran saya mengenai usia terbayangi. Siapa yang tahu ajal datang menjemput, siapa yang tahu saat ini ternyata pukul berapa saya akan wafat di tempat yang demikian.. Bukan artinya menghindari itu. Bukan! Tapi persiapan yang kita punya.
Persiapan apa aja? Ugh.. Saya belum punya persiapan sematang khulafaurrasyiddin, Aisyah, Siti Khadijah, dan 10 orang yang dijamin masuk surga lainnya. Rasanya ya betul.. Saya belum bisa merelakan keduniawian yang saya inginkan ini.
Sebetulnya bukan keduniawiannya, tapi saya tak ingin menangguhkan masalah2 yang sedang merenggut waktu saya untuk tidak sia-sia. Dan mungkin inilah sebab saat gempa bumi yg melanda Bandung, saya tidak jatuh tertimpa atap.. Saat teman saya menjahili saya hampir2 kepala saya terkenal marmer lantai.. Saat saya menyeberang dan tertabrak motor, bukan kepala saya dulu yang menabrak aspal..
Dari itu semua, saya diberi kesempatan hidup satu kali lagi. Saya diberi kesempatan untuk beribadah lagi, mendekatkan diri pada Allah lagi, diberi kesempatan lagi untuk memecahkan masalah ummat ini, diberi kesempatan lagi untuk memperbaiki dunia dari kesalahan-kesalahan kelamnya, diberi kesempatan lagi untuk memperbaiki diri dari hawa nafsu ini.
Namun di lain pihak.. Ya Rabb, semakin usia ini mengurang apakah justru aku menimbun dosa-dosa yang tak terkira sementara taubatanku tak diterima karena bukan taubatan nasuha?
Disinilah aku mengeluh berkali-kali.. Sudah berapa kali aku kalah telak dengan hawa nafsu yang doyan sekali mengontrol pikiran dan hatiku ini? Sudah berapa kali ya lisan ini mendzalimi hati saudara/i ku? Sudah berapa kali ya lisan dan perilaku ini mendzalimi kedua orangtuaku?
Orangtuaku yakin kecewa memiliki seorang anak yg akhlaknya tak terkontrol ini.. Orangtua mana yang tidak ingin akhlakul anaknya adalah akhlakul karimah?
Ya Rabb.. Jangan biarkan waktuku berkurang namun tak kulakukan dengan kebaikan, jangan biarkan siksa kubur menyakitiku selamanya akibat pertanggungjawaban semua hal2 yang mendzalimiku..
Ya Rahman Ya Rahiim..
Aku hanyalah sebutir debu dan Engkau Maha Besar dan Maha Agung dari segalanya. Namun mengapa hamba yang sebutir debu ini memiliki kesombongan selangit???
Usiaku tentu akan semakin mengurang dan Engkau tentunya tahu bagaimana masa depanku.. Aku pasrah terhadapmu namun tentu saja aku akan bertawakal..
Ya Malik Ya Kudus..
Arahkan aku ke jalanMu.. Maafkan.. Maaf apabila aku sendirilah yang telah mendzalimi diriku sendiri.. Maafkan aku ya Rabb..
Semoga postingan ini tidak hanya tulisan belaka.. Namun mampu menyerap menuju iman terdalam kita semua.. Amin..
Recent Comments